TUGAS
HUKUM DAN ETIKA
KOMUNIKASI
DISUSUN
OLEH:
RATNA
ELIA MULIASARI
2015-52-159
Sesi
02
FAKULTAS
ILMU KOMUNIKASI
HUBUNGAN
MASYARAKAT
Ditemukan
Ada Mayat WNA Akibat Ledakan di Sarinah
Kamis, 14 Januari 2016
12:25 WIB
JAKARTA - Para pengunjung
pusat perbelanjaan Sarinah dan warga yang melintas di sekitarnya dikejutkan
dengan suara ledakan. Ada rentetan ledakan dari dalam gedung Sarinah dan pos
polisi di depannya.
"Empat kali bunyi ledakan mas. Ada di mall (Sarinah, red), terus pos polisi perempatan lampu merah Sarinah," ujar Syaiful Anwar, salah seorang saksi yang melihat kejadian itu.
Menurutnya, pelaku
berjumlah enam orang. Tiga di antaranys seperti warga negara asing. “Tiga WNI
(warga negara Indonesia, red),” katanya.
Menurutnya, ada tiga
mayat di lokasi. "Yang tiga orang asing ini meninggal di lokasi, Mas. Bom
bunuh diri," katanya.
Sempat terjadi baku
tembak antara polisi dengan pelaku. Informasi yang beredar menyebut tiga pelaku
telah melarikan diri.
Belum ada pejabat di
kepolisian yang bisa dimintai konfirmasi. Sedangkan Kapolda Metro Jaya Irjen
Tito Karnavian sedang menuju lokasi kejadian.
ANALISA
:
Menurut saya berita
diatas sudah cukup baik dari segi penulisan berita seperti dalam penggunaan
bahasa jurnalistik yang baik dan benar. Fakta yang didapat juga sudah akurat
dari sumber yang terpercaya.
Namun ada salah satu yang harus disoroti dalam berita
online ini yaitu, media massa terutama media elektronik telah melakukan
pelanggaran kode etik jurnalistik. Bahwa menurut saya dalam kode etik
jurnalistik gambar luka-luka yang diderita korban tidak boleh disorot secara
dekat. Media elektronik menampilkan bahkan di zoom wajah
berdarah-darah para korban itu melanggar kode etik. Kasus ini termasuk dalam
pelanggaran kode etik jurnalistik pasal 4
yang mengatakan bahwa “wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul”.
yang mengatakan bahwa “wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul”.
Padahal
yang melihat berita itu bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak.
Gambar-gambar tersebut akan melekat dalam ingatan anak dan dapat menimbulkan trauma
dan rasa takut. Dan juga terkdang repoter sering kali terbawa emosi sehingga
mengatakan kalimat-kalimat yang berlebihan.
Maka seharusnya gambar-gambar
itu seharusnya bisa diganti dengan sketsa kasar (seperti yang pernah disampaikan oleh tokoh
politik Abdullah Alammud)

0 komentar:
Posting Komentar